| |
KELEDAI MEMBACA
Timur
Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan
senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,"Ajari keledai itu membaca. Dalam
dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."Nasrudin
berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak
bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring
keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.Si keledai menatap buku
itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus
menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu
si keledai menatap Nasrudin."Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku
sudah bisa membaca."Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu
mengajari dia membaca ?"Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku
siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji
gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk
bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk
membalik-balik halaman buku dengan benar.""Tapi," tukas Timur Lenk tidak
puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"Nasrudin menjawab,
"Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman
tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti
isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"
RELATIVITAS KEJU
Setelah
bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut
dengan gembira,"Aku punya sepotong keju untukmu," kata
istrinya."Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik
untuk kesehatan perut."Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia
kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga."Adakah keju untukku
?" tanya Nasrudin."Tidak ada lagi," kata istrinya. Kata Nasrudin, "Yah,
tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi." "Jadi
mana yang benar ?" kata istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik
untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?" "Itu tergantung," sambut
Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
Tampang itu perlu
Nasrudin
hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah
yang mengeluh. "Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata
Nasrudin."Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata
istrinya.Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak
keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!"
berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan
seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin
membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai,
aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."Sang tetangga
menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya.
Nasrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu
pasti jawaban dari Allah."Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin
menghadap hakim. Nasrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan
dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti
hakim berprasangka buruk pada orang miskin."Sang tetangga meminjamkan
jubah dan kuda.Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga
Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim."Bagaimana pembelaanmu?"
tanya hakim pada Nasrudin."Tetangga saya ini gila, Tuan," kata
Nasrudin."Apa buktinya?" tanya hakim."Tuan Hakim bisa memeriksanya
langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan
misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai
miliknya. Apalagi pula uang saya."Dengan kaget, sang tetangga berteriak,
"Tetapi itu semua memang milikku!"Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah
cukup. Perkara putus.
TEORI KEBUTUHAN
Nasrudin
berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya
cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim
memulai,"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika,
..."Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi
justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."Hakim
mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau
Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan
dipilih?"Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih
kekayaan."Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang
diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada
kebijaksanaan?"Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda
sendiri?"Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."Dan
Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa
yang belum dimilikinya."
YANG
BENAR-BENAR BENAR
Nasrudin
sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan
dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa.
Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:"Aku rasa
engkau benar."Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa
terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang
pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah
pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:"Aku rasa engkau
benar."Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan
sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah !
Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:"Aku rasa engkau
benar."
NASIB DAN ASUMSI
"Apa
artinya nasib, Mullah ?" "Asumsi-asumsi." "Bagaimana ?""Begini. Engkau
menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak
begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi
bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi.
Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi
atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang
akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat
ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu
nasib."
ORIENTASI PADA BAJU
Nasrudin
diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama,
hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas
bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah.
Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub
melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah,
padahal kuda mereka lebih cepat."Itu berkat kuda yang kau pinjamkan
padaku," ujar Nasrudin ringan.Keesokan harinya, cuaca masih mendung.
Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi
kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan
rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara
itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya.Sampai
rumah, Nasrudin tetap kering."Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu
membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!" "Masalahnya, kamu
berorientasi pada kuda, bukan pada baju."
TAMPAK SEPERTI WUJUDMU
Nasrudin
sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya."Oh kasih yang
agung.Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.Segala yang tampak oleh
mataku.Tampak seperti wujud-Mu."Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana
jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"Nasrudin berbalik,
menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:"Tampak seperti wujudmu."
PADA SEBUAH KAPAL
Nasrudin
berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin
selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak
mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai
besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para
penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong.
Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika
mereka selamat."Teman-teman!" teriak Nasrudin. "Jangan boros dengan
janji-janji indah! Aku melihat daratan!"
PELAYAN RAJA
Nasrudin
menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam
istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan
yang enak sekali."Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?" tanya
raja kepada Nasrudin."Teramat baik, Tuanku."Maka raja meminta dimasakkan
sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang
kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak:"Singkirkan
semuanya! Aku benci makanan ini!""Memang sayuran terburuk di dunia,
Tuanku." ujar Nasrudin."Tapi belum satu minggu yang lalu engkau
mengatakan bahwa itu sayuran terbaik.""Memang benar. Tapi saya pelayan
raja, bukan pelayan sayuran.”
UMUR NASRUDIN
"Berapa
umurmu, Nasrudin ?""Empat puluh tahun.""Tapi beberapa tahun yang lalu,
kau menyebut angka yang sama.""Aku konsisten."
YANG TERSULIT
Salah
seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang
paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang
bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal
itu ?""Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata
Nasruddin."Apa itu?""Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala
sesuatu sebagaimana adanya."
TERBURU-BURU
Keledai
Nasrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya.
Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nasrudin
menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nasrudin
berpegangan di atasnya, ketakutan.Nasrudin mencoba membelokkan arah kuda.
Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi.Beberapa teman Nasrudin
sedang bekerja di ladang ketika melihat Nasrudin melaju kencang di atas
kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak,"Ada apa
Nasrudin ? Ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru ?"Nasrudin balas
berteriak, "Saya tidak tahu ! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku
!"
PERIUK
BERANAK
Nasrudin
meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia
mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya.
Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu."Periukmu
sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya
dengan selamat."Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun
pulang.Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu.
Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai
gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,Sambil terisak-isak, Nasrudin
menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah
menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah
kumakamkan."Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku.
Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!""Tapi periuk
yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin,
sambil menghentikan isaknya.
TIMUR LENK DI AKHIRAT
Timur
Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya."Nasrudin!
Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ?
Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?"Bukan
Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan 'semudah' ini."Raja
penakluk seperti Anda," jawab Nasrudin, "Insya Allah akan ditempatkan
bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah."Timur
Lenk benar-benar puas dan gembira. "Betulkah itu, Nasrudin ?""Tentu,"
kata Nasrudin dengan mantap. "Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama
Fir'aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi,
dan juga Jenghis Khan."Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira
mendengar jawaban itu.
NASRUDIN PEMUNGUT PAJAK
Pada
masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan
pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak
memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan.
Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang
marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para
pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir
keluar.Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk
menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih
besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia
menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap
kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun
dipanggil.Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti
hangat."Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?" bentak
Timur Lenk. "Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka," jawab
Nasrudin dengan gaya pejabat."Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?"
Timur Lenk lebih marah lagi. Nasrudin menjawab takzim, "Paduka, usiaku
sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu.
Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini."
NASRUDIN MEMANAH
Sesekali,
Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan
cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya
Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan
ketangkasan."Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku,
tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu
dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau
harus merangkak jalan pulang ke rumahmu."Nasrudin terpaksa mengambil
busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik
sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera
setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir
memanah."Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan
memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak
lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah."Nasrudin segera mencabut
sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini
panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini
adalah
gaya
Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja."Sambil
menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.
API !
Hari
Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia
berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian
tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,"Api ! Api ! Api !"Segera
saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh
kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,"Dimana apinya, Mullah
?"Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang
bertanya,"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam
beribadah."
BAHASA BURUNG
Dalam
pengembaraannya, Nasrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul
kabar burung bahwa Nasrudin telah menguasai bahasa burung-burung. Raja
sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nasrudin ke
istana.Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak
di dekat istana. Bertanyalah raja pada Nasrudin, "Coba katakan, apa yang
diucapkan burung hantu itu!""Ia mengatakan," kata Nasrudin, "Jika raja
tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera
runtuh seperti sarangnya."
BAHASA KURDI
Tetangga
Nasrudin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Nasrudin.
Sebetulnya Nasrudin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah
kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia."Kita
mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash.""Bagaimana
dengan sop dingin ?""Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak
pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah
mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi."
BELAJAR KEBIJAKSANAAN
Seorang
darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin
bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari
dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat
perilakunya.Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu
ditiup-tiupnya. "Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar
lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nasrudin.Setelah api besar,
Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam
dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup
sonya."Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih dingin
dan enak dimakan," jawab Nasrudin."Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar
darimu," ketus si darwis, "Engkau tidak bisa konsisten dengan
pengetahuanmu."Ah, konsistensi.
CARA MEMBACA BUKU
Seorang
yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin mengamati
bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan
aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan
dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan
cara yang tidak semestinya.Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku
hasil karyanya sendiri. nasrudin segera mengacungkan tangan untuk
menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin
membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali. Sang penceramah
mulai kesal."Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!""Aku tahu," jawab
Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya,
ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."
GELAR TIMUR LENK
Timur
Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal
kekuasaannya."Nasrudin," katanya suatu hari, "Setiap khalifah di sini
selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah,
Al-Mutawakkil 'Alallah, Al-Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan
lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?"Cukup sulit,
mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama,
Nasrudin menemukan jawabannya. "Saya kira, gelar yang paling pantas
untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja." "Aku berlindung kepada Allah (darinya)"
HIDANGAN
UNTUK BAJU (1)
Nasrudin
menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua
dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa
Nasrudin pulang kembali.Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai
pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuang Rumah menyambutnya dengan
ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu
lainnya.Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan
berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"Untuk mana ia
memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada
seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju
yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu
saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
HIDANGAN
UNTUK BAJU (2)
Nasrudin
menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang
asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula
mengisi kantong bajunya dengan makanan.Melihat kerakusan sahabatnya,
Nasrudin mengambil teko berisi air. Diam-dian, diisinya kantong baju
sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan
berteriak,"Hai Nasrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi
air!""Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nasrudin, "Karena
tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku
khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
JATUHNYA JUBAH
Nasrudin
pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di
dalam rumah, istri Nasrudin sudah menanti dengan marah. "Aku telah
bersusah payah memasak untukmu sore tadi !" katanya sambil menjewer
Nasrudin. Karena kuatnya, Nasrudin terpelanting dan jatuh menabrak
peti.Mendengar suara gaduh, teman-teman Nasrudin yang belum terlalu jauh
kembali, dan bertanya dari balik pintu,"Ada apa Nasrudin, malam-malam
begini ribut sekali?""Jubahku jatuh dan menabrak peti," jawab
Nasrudin."Jubah jatuh saja ribut sekali ?""Tentu saja," sesal Nasrudin,
"Karena aku masih berada di dalamnya."
KEADILAN DAN KELALIMAN
Tak lama
setelah menduduki kawasan
Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu.
Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:"Jawablah: apakah aku adil
ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau
akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan
kelalimanku engkau akan kupenggal."Beberapa ulama telah jatuh menjadi
korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin
diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur
Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :"Jawablah: apakah aku
adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku
engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan
kelalimanku engkau akan kupenggal."Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin
menjawab :"Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan
orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang
diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami."Setelah berpikir sejenak,
Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para
ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.
KEKEKALAN MASSA
Ketika
memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan
membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia
berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di
sini."Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya
sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya
itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja."Siapa yang menghabiskan ikan
sebanyak ini ?"Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau
pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"Nasrudin pun makan malam
dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya
ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia
pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,"Ikanku tadi dua kilo beratnya.
Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo,
mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
MENJEMUR BAJU
Nasrudin
sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung yang
sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk
mengeluh,"Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah.
Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi.
Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan."Nasrudin mau menolong mereka.
Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga
membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah
ember air.Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu,
Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut,"Mullah ! Itu air
terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!"Di tengah kegaduhan, dengan
tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu,
terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan
marahnya, dan mereka berteriak gembira."Bajuku hanya satu ini," kata
Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, "Bila aku menjemurnya,
pasti hujan turun deras!"[Catatan Koen: Trik ini sering digunakan oleh
kaum sufi -- menggunakan keterjepitan-keterjepitan untuk hal-hal yang
berbeda.
MIMPI RELIJIUS
Nasrudin
sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian,
bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak
memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat
memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling
relijius. Tidurlah mereka.Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku
bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang
istimewa sekali."Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi
melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling
damai."Nasrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun,
dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah
roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga."
MISKIN DAN SEPI
Seorang
pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal
sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena
ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per
satu kawan-kawannya pun menjauhinya.Ketika ia benar-benar miskin dan
sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum
wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah."Uang
saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus
saya lakukan?" keluh pemuda itu."Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya
akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali
tenang dan bahagia."Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan
segera kembali kaya?""Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku,
dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang
yang miskin dan tidak mempunyai teman."

|